News Update :

Jual Cacing Lumbricus "Pedoman Teknis Budidaya (2)"

Penulis : Admin on Jumat, 17 Januari 2014 | 19.14


Pembibitan
 

Setelah mempelajari Pedoman Teknis Budidaya Pertama yakni Penyiapan Sarana dan Peralatan. sekarang menginjak kepada Pedoman Teknis Budidaya (2) yang menerangkan tentang Pembibitan 

Pembibitan adalah faktor penting yang harus diketahui. hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.   Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah (Cacing Lumbricus Rubellus) secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun juga diperbolehkan kalau hanya mencoba belajar dapat dimulai dari skala kecil dan bisa menggunakan bibit cacing tanah dari alam. 
2.   Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
1.   Pemeliharaan cacing sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
2.  Pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
3.  Pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
4.  pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
5.  Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
3.   Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. lihat disini
Cara Penanaman Bibit . Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
4.  Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.


Trimakasih semoga bermanfaat Pedoman Teknis Budidaya (2) yang membahas tentang Pembibitan selanjutnya adalah Pedoman Teknis Budidaya (3) membahas tentang Pemeliharaan
Share this article :
 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger